Kamis, 18 April 2013

MUSLIM BURMA etnis Rohingya

NeonoRV
KEPRIHATINANKU UNTUK SAUDARA MUSLIMKU


http://www.facebook.com/BurmaMuslimMassacre


Lantas bagaimana akhlak kita sebagai sesama muslim untuk saudara-saudara kita dalam kondisi terdzalimi?
Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan. Renungkanlah karunia Allah yang diturunkan kepada kalian pada masa jahiliah, ketika kalian masih saling bermusuhan. Saat itu Allah menyatukan hati kalian melalui Islam, sehingga kalian menjadi saling mencintai. Saat itu kalian berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dengan Islam. Dengan penjelasan yang baik seperti itulah, Allah selalu menerangkan berbagai jalan kebaikan untuk kalian tempuh. (QS 3:103)
Dan,
Orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, saling mencintai dan menolong satu sama lain. Dengan dasar keimanan, mereka menyuruh untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh agama mereka yang benar, melarang apa yang dilarang oleh agama, mengerjakan salat pada waktunya, membayar zakat untuk orang yang berhak menerima pada waktunya, mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Merekalah yang akan selalu berada dalam rahmat Allah. Allah sungguh Mahakuasa untuk mengayomi mereka dengan kasih sayang-Nya, dan Mahabijaksana dalam pemberian-Nya. (QS 9:71)
Perintah di atas mengajarkan kita bahwa setiap saat dan terlebih saat krisis, adalah tugas seorang muslim untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Rasulullah saw mengajarkan ummat Islam untuk bersatu seolah-olah kita satu tubuh: jika satu bagian dalam tubuh kita merasakan sakit, bagian lainnya juga merasakn sakit. Ketika ada semangat untuk saling menolong, akan timbul persatuan, rasa aman dan kuat. Persatuan ini merupakan karunia saat masa-masa awal Islam berdiri saat menghadapi berbagai ancaman, sehingga dengan adanya persatuan ini, kaum muslim bisa menghadapi para musuh dengan yakin bisa mengakhiri ketidakadilan dan penindasan atas ummat.
Kondisi sulit yang saat ini dihadapi oleh Ummat Islam dunia merupakan akibat dari kurangnya perhatian kita atas petunjuk yang telah diberikan oleh Al Quran dan Sunnah. Sebagai akibatnya, sebagian muslim kurang  peduli jika umat islam di belahan bumi lainnya tertindas.
“Bagaimana kalian sampai hati untuk tidak berperang di jalan Allah, sedangkan orang tua laki-laki, wanita dan anak-anak yang lemah selalu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kekuasaan orang-orang yang zalim. Tempatkanlah kami berada di dalam kekuasaan orang-orang yang beriman dengan kekuasaan dan rahmat-Mu. Berikanlah kami penolong dari sisi-Mu yang akan menolong kami.” (QS 4:75)
Ayat di atas merupakan perintah langsung dari Allah AWT untuk membantu pembebasan umat islam yang tertindas oleh tirani.
Adapun dalam kondisi saat ini, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:
  1. Menggunakan peran politik untuk membantu saudara-saudara kita yang tertindas, misalnya mendorong pemerintah untuk ikut aktif memberikan diplomasi politik. Salah satu bentuk protes atas penindasan adalah pengusiran diplomat, seperti yang dilakukan oleh Inggris, Perancis, Australia, Kanada, Jerman, Italia dan Spanyol sebagai reaksi atas Pembantaian Houla di Syria.
  2. Penggalangan dana untuk membatu saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Di Indonesia, ada beberapa badan untuk menjembatani donasi ini. Untuk Rohingya misalnya, ada program dari Aksi Cepat Tanggap. Untuk Palestina, ada program donasi Palestina melalui  Sahabat Al-Aqsha. Saudara-saudara kita di Saudi, dalam 3 hari, mereka bisa mengumpulkan Rp 343 Miliar untuk krisis Suriah. Saat  di bulan Ramadhan, berbuat kebaikan termasuk sedekah sangatlah utama.
  3. Menggunakan media untuk menambah awareness dunia atas penindasan yang terjadi, baik dalam bentuk pembantaian, perusakan tempat tinggal warga sipil, dan perampasan hak-hak dasar.
  4. Membantu dengan doa kepada Allah SWT, dan paling tidak, inilah sekecil-kecilnya bantuan yang bisa yang bisa kita lakukan.
800 ribu lebih jiwa warga etnis Rohingya yang tinggal di provinsi Rakhine sebelah Utara Myanmar, berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Pegiat hak asasi manusia menuding keadaan tersebut telah memicu kekerasan antara mayoritas penduduk Myanmar yang beragama Budha dengan penduduk minoritas beragama Islam. 

Aksi kekerasan ini mengakibatkan sejumlah warga sipil  tewas dan rumah tinggal mereka dibakar. Warga minoritas dari etnis Rohingya yang beragama Islam hidup dibawah penindasan. Mereka tidak dapat secara bebas bepergian dan menikah, serta akses yang sangat terbatas untuk memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Mayoritas etnis Rohingya yang beragama Islam tidak diakui kewarganegaraan mereka, baik oleh Myanmar tempat dimana mereka tinggal dan negara tetangganya Bangladesh.

Wallahu a’lam.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Muslim Rohingya selama beberapa dekade terakhir mengalami pelanggaran HAM. Mulai dari tidak memperoleh hak kewarganegaraan, pembersihan etnis, pembunuhan hingga pemerkosaan wanitanya dan pengusiran massal yang hingga kini masih berlangsung.
Pelanggaran hak atas Muslim Rohingya yang tinggal secara massif di provinsi Rohyng (dulu Arakan), Myanmar terjadi sejak penjajahan Inggris yang memprovokasi pemeluk Budha dengan disuplai senjata. Sampai terjadi–seperti dilaporkan–pembantaian besar-besaran pada tahun 1942 yang menewaskan sekitar 100 ribu Muslim Rohingya.
Setelah Myanmar memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1948, Muslim Rohingya justru semakin merana dengan bermacam tindakan represif dan penyiksaan. Hingga akhirnya Myanmar mengeluarkan UU Kewarganegaraan tahun 1982 yang melanggar piagam dan undang-undang internasional. Dengan UU itu, Muslim Rohingya terlucuti secara kejam dari hak-hak kewarganegaraannya.

Dengan UU diskriminatif  itu, Myanmar  juga melarang Muslim Rohingya memiliki property, hak melakukan aktivitas bisnis dan perdagangan, menjadi anggota militer dan instansi pemerintahan, hak menjadi pemilih di pemilu legislatif hingga dilarang membentuk organisasi dan aktivitas politik.
Dari pemerintahan ke pemerintahan, Myanmar menerapkan pajak berlipat kepada kaum Muslimin di sana. Pemerintah melarang mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan melarang ke luar negeri. Sejumlah laporan mengungkap, pemerintah Myanmar pada tahun 1988 membuat “desa-desa percontohan” di utara Rohingya. Pemerintah mendorong keluarga pemeluk Budha tinggal di daerah tersebut, dan bukan umat Islam.
Bahkan simbol-simbol agama dan keyakinan pun menjadi sasaran kekerasan pemerintah Myanmar. Berbagai laporan membeberkan, pemerintah Myanmar menghancurkan masjid-masjid dan sekolah agama di kawasan yang dihuni suku Rohingya. Lebih dari itu, mereka juga dilarang menggunakan pengeras suara untuk adzan shalat, dilarang menunaikan ibadah haji kecuali sangat sedikit.


Meski belakangan santer diberitakan keterbukaan di Myamar, namun situasi Rohingya kembali memburuk akibat aksi pengusiran massal dan represif.
Represif Terus menerus
Kekerasan terhadap Muslim di Rohyingnya kembali terjadi sejak Mei lalu setelah mereka dituding di balik kasus perkosaan dan pembunuhan perempuan Budha. Polisi setempat menangkap tiga warga Muslim kemudian diikuti aksi pengusiran dan penyerangan yang menewaskan nyawa puluhan warga Muslim.
Seperti disebutkan oleh Organisasi Amnesti Internasional dan Human Right Wacth beberapa saat lalu, pasukan keamanan di Myanmar telah menggelar aksi penangkapan massal terhadap umat Islam dan menghancurkan ribuan rumah. Warga Muslim berusaha lari melalui sungai Nava untuk menyeberang ke Bangladesh.
Pemerintah setempat sendiri tak pernah merilis jumlah rinci korban. Sementara media massa Myanmar menyebut umat Islam di sana sebagai kelompok teroris dan pengkhianat.
Harian New York menurunkan laporannya bulan lalu tentang kondisi Muslim Rohingya bahwa apa yang mereka alami berupa pembunuhan dan pengusiran akan merembet kepada pembersihan etnis. Meski langkah-langkah demokrasi sudah diterapkan, tetap saja kondisi umat Islam memburuk.


Pengakuan Setengah Hati
Laporan terakhir komisioner eksekutif Badan Pengungsi PBB menyebutkan, Rohingya mengalami berbagai ketertindasan, di antaranya: kerja paksa, pemerasan, pengekangan atas kebebasan, hilangnya hak tinggal, aturan perkawinan yang tidak adil, dan penyitaan tanah.
Komisioner PBB mengatakan, situasi tekanan di atas mendorong umat Islam dalam jumlah besar di sana melarikan diri. Dan sayangnya, situasi secara umum di negeri itu tidak menggembirakan untuk tinggal kembali.


PBB sendiri menyebut bahwa Muslim Rohingya adalah salah satu minoritas yang paling keras mendapatkan tekanan di dunia.
Meski PBB mengakui kondisi tragis Muslim Myanmar, presidennya Tsen Sen (Thein Sein) tidak bergerak sama sekali. Justru dia meminta PBB  untuk menempatkan mereka di kamp pengungsian. Dalam pertemuannya dengan komisioner PBB untuk Urusan Pengungsi, Antonio Geuteres, PresidenTsen Sen mengatakan, solusi satu-satunya untuk etnis Rohingya adalah dihimpun di kamp pengungsi atau diusir dari negeri tersebut.
Kepada Geuteres, Tsen berkilah bahwa Muslim Rohingya masuk ke Myanmar secara tidak legal.
Jumlah umat Islam di Myanmar berkisar antara 5 hingga 8 juta penduduk, 70 persennya tinggal di provinsi Rohingya dari  60 juta total penduduk negeri itu.

Hampir di seluruh belahan dunia, jika umat Islam minoritas, nasib tragis selalu menghantui mereka. Sebaliknya, jika yang menjadi minoritas adalah non Muslim, maka mereka dilindungi dan dijaga hak-haknya. Meski begitu, anehynya, umat Islam justru sering dituding sebagai biang keladi kerusakan dan tidak menghargai nilai-nilai kebebasan dan HAM.







Tragedi Rohingya yang entah kapan akan berakhir  menjadi bukti kebenaran firman Allah:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
“Sungguh akan kamu dapati manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menyekutukan Allah (kaum paganis; penyembah binatang dan benda-benda),” (QS Al-Maidah: 82).
Sayangnya, umat Islam justru lebih sibuk dengan urusan kelompok masing-masing. Padahal uluran tangan sangat mereka dambakan.
Mana suara pejuang HAM dan kebebasan selama ini? Sungguh ironis.
“Ya Allah, tolonglah umat Islam di Rohingnya,” Aamiin (bsyr/spiritislam.net/salam-online.com).




Amien ya robbal alamiin 



Hanya coretan BLOGER NEWBIE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar