Minggu, 14 April 2013

Masa lalu yang tertinggal

NeonoRV
Kekalahanku
Andaikan kita dihadapkan pada suatu pilihan yang menyangkut hati : berpisah dengan masih menyimpan perasaan satu sama lain, atau tetap bersama terikat sebuah status, namun tersiksa dengan setiap persoalan setiap hari, karena ekspektasi yang tak kunjung tercapai? Pilihan yang tidak mudah pastinya. Ketika seseorang menjadi begitu penting dalam hidup kita, kita mulai menaruh harapan kita kepadanya. Kita mengharapkan perhatian, perlakuan manis, pengertian, dan hal-hal lain yang kita dambakan dari sebuah hubungan yang sempurna. Sebuah hubungan ilusi, yang mungkin hanya bertahan satu-dua minggu pada periode kasmaran. Saat-saat dimana bangun pagi terasa begitu indah, dan tidur malam dengan hati berbunga-bunga.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan yang ada akan menghasilkan duri. Duri yang ditimbulkan karena jarak hati yang bergesekan. Duri yang dipupuk dari setiap masalah lain dari hidup yang bertumpuk, tak terselesaikan, dan parahnya, tak dapat disuarakan. Yang terpendam jauh di dasar hati. Yang akhirnya menjadi senjata untuk menyerang yang terkasih. Ketika manusia tak dapat menerima kenyataan, mereka akan marah. Marah dan menyerang sekelilingnya, terutama sumber kekecewaannya. Perhatian yang tak kunjung datang, kata-kata manis yang tidak sempat didengar, cinta yang tak dipertunjukkan secara nyata... Kita marah, karena kenyataan yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Di satu sisi, kita tahu kalau kita telah gagal. Namun diri kita tak mau menerima. Jadilah dalam kemarahan, kita menyakiti tempat kita menggantungkan harapan gagal tersebut, yang mungkin sebenarnya adalah orang terakhir di dunia yang ingin kita lihat menangis. Sekali lagi, penyesalan selalu datang terlambat. Hanya saja kita terkadang lupa. Dengan kebijaksanaan yang terbatas, manusia akan lupa pada sesuatu saat yang baru datang. Dan saat penyesalan kembali berbalik menuju kita, kita tahu, sudah terlambat untuk berubah. Menyesal karena sesuatu yang telah terjadi, karena pilihan yang kita ambil, sudah pasti sangat tidak bijaksana. Yang bisa kita lakukan hanyalah bersyukur atas semua yang telah terjadi. Toh, momen-momen indah yang terjadi, adalah suatu anugerah tersendiri. Pastikan saja kalau kita tidak membuat kesalahan yang sama di masa yang akan datang, jika tidak ingin dicibir keledai. Tulisan ini saya tulis dengan hati yang patah... Jangan kuatir. Kebahagiaanku ga aku bagi, kesedihannya pun ga akan. Biarkan akui tanggung sendiri. :) Satu hal aja. Cintai semua orang di sekelilingmu, tanpa mengharap imbalan. Karena tidak akan ada yang tahu, kapan mereka tak lagi di sisimu...
satu kekalahan lagi untukku..
mungkin sudah saatnya aku berhenti memikirkan semua yg terlalu rumit..
mungkin saatnya untuk diriku sendiri,, tanpa harus memikirkan orang lain..
tanpa dibebani semua rasa yang bisa membunuhku sendiri,,
aku perlu kebebasan itu,,
bukan karena bosan dari rutinitas ini,,
tapi aku lelah,, otakku rasanya sudah terbakar habis,,
tubuhku rasanya telah meleleh jadi kepingan-kepingan perasaan yang berbeda..
dan aku masih mencoba untuk berdiri disana,,
ya, aku hanya berusaha mengisi tempat,,
saat tak ada yang mau mengisi tempat itu,,
aku hanya berusaha mengisi kekosongan..
walau sebenarnya aku bukan orang yang tepat..
dan maaf jika hanya sampai disitu lah batasku..
aku selalu bertindak tidak tepat disaat yang tidak tepat..
aku penuh dengan kesalahan dan kebodohan,,
tapi aku hanya berusaha membantu..
tidak lebih,
untuk kalian..
untuk siapa saja..
tapi bukan untuk diriku sendiri,,
satu hari yang mungkin berbeda dari yang pernah dijalani..
membuatku berpikir ulang akan banyak hal..
mungkin sebuah kekalahan bagiku,,
satu dari rentetan kekalahan jelasnya..
mungkin karena aku,,
atau karena faktor selain aku..
tapi yang pasti hari-hari jadi terlalu berat untukku..
dan jauh lebih berat saat aku sadar tak ada orang seperti dia untuk berbagi bersamaku..
Hidub ini kian seprti mimpi,ada banyak kemustahilan,seprti drama yang tak berbabak dan tak bersekenario,ia datang dan pergi kapan saja,dengan kekacauan atau ketenangan yang pura-pura.Ini ukuran kemanusiaan ,bukan mendahului takdir yang gelap tertutup tabir. Apa yang dulu mustahil bisa mungkin,dan memang begitulah mimpi.Sebab hidub tak lagi harga untuk sebuah karya,kompetisi,apalagi jati diri.Sebab hidub kini adalah uang.sebab uang adalah hidub,tak ada uang janganlah berharap hidub.
Dari mimpi lahirlah uang,dari uang lahirlah mimpi,meski mimpi kita tentang uang itu tak sebanding dengan rasio ketersediaan lapangan kerja,juga jaminan persaingan kerja yang sehat. Sebagian penyelesaian masalah hidub in memang memerlukan uang. Tapi apa yg kadang kita saksikan saat ini adalah tirani uangterhadap segala hal.Sebab di balik semua ini ada manusia yang tidak cukup dengan uang.Demi sesuap nasi dan seteguk air. Sebuah budaya konsumerisme telah menciptakan mimpi-mimpi rumit,seperti wajah-wajah iklan penuh gincustatus.
Hanya coretan sederhanaku
WE WILL STILL BE, FRIENDS FOREVER..

WE WILL STILL BE, FRIENDS FOREVER..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar