Jumat, 19 April 2013

SI CUCU TERINGAT NASEHAT KAKEK YANG BIJAKSANA

NeonoRV
KAKEK & CUCUNYA



Kakek, bolehkah saya  bertanya.........” Kata Maula dengan sedikit rasa segan.

Kakek tersenyum, “Tanya apa Nak Mas, kok tumben-tumbenan Nak Mas seperti segan tanya sama kakek.......”

“Iya kek, saya sedikit malu tanya soal ini kek, saya khawatir kakek akan menertawakan saya.....” kata Maula masih ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya.

“Nak Mas...., pernah 
kakek menertawakan Nak Mas....?, Kakek malah senang kalau Nak Mas mauberbagi pengalaman dengan kakek, kakek  yang sehari-haridi pondok ini, tentu tidak tahu banyak apa yang terjadi di luar sana, dan dari Nak Mas kakek  mendapat banyak informasi dan tambahan pengetahuan mengenai berbagai hal dari Nak Mas.......” Kata kakek.

“Begini k
ek, saya merasakan ada sesuatu yang’aneh’ dalam hal pengelolaan pendapatan saya kek....” Kata Maula.

“Aneh apanya Nak Mas.....?” Tanya
kakek.

“Alhamdulillah
 kek, sejak ditempat kerja yang dulu, Saya dikarunia Allah pendapatan yang ‘lebih’ dibanding dengan rekan-rekan yang lain....” Kata Maula.

“Lalu.....?” Tanya
 kakek penasaran.

“Yang membuat
saya merasa aneh adalah berapapun pendapatan yang saya terima, saya selalu tidak bisa nabung kek, pendapatan saya bahkan tidak mencukupi kebutuhan kami selama sebulan, paling hanya cukup untuk satu atau duaminggu saja, padahal rekan-rekan yang lain, yang pendapatannya mungkin sedikit dibawah saya, justru bisa nabung, bisa beli motor, beli rumah dan bahkan sudah ada yang beli mobil sekarang ini kek.........” Kata Maula, sambil memandagi wajah Ki Bijak, untuk melihat reaksi gurunya tersebut dengan unek-unek yang barusan di utarakannya.

K
akek Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Nak Mas masih ingat dengan perbincangan kita kemarin, bahwa ‘kunci’ rezeki kita secara syariat terletak pada rasa syukur kita kepada Allah, keridhaan kita dan tawakal kita kepada Allah.....?” Tanya Ki Bijak.

“Iya 
kek,saya masih ingat......” Kata Maula.

“Syukur, ridha dan tawakal bukan hanya kata-kata yang harus diingat atau dihafal Nak Mas, lebih dari itu, ketiganya harus dipahami dan kemudian diamalkan secara benar, Nak Mas sudah paham makna ketiga kata itu.....?” Tanya
kakek

“Iya kek,saya pernah baca kitab Madarij Salikin karya Imam Ibnu Qoyyim, beliau berkata, "Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh adalah menampakkan pujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya. Syukur dibangun di atas lima landasan utama: ketundukan kepadaAlloh, kecintaan kepada-Nya, pengakuan terhadap nikmat-Nya,pujian kepada-Nya dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan kepada Alloh, inilah lima landasan syukur menurut Imam Ibnu Qoyyim….”, Kata Maula mengutip buku yang pernah dibacanya.

“Beliaujugamenambahkan’"Barangsiapa yang tidakmelaksanakansalahsatudari lima landasantersebut, berartisatulandasantelahhilangdarinya",

“Sementara Imam Ibnu Qudamah menjelaskan dalam Minhajul Qosidin bahwa "Syukur adalah dengan hati, lisan dan anggota badan.Maksudnya dengan hati yaitu dengan meniatkan untuk kebaikan.Dengan lisan yakni dengan menampakkan tanda syukur tersebut dengan ucapan tahmid (AIhamdulillah) dan dengan anggota badan artinya menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Alloh serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya…” Kata Maula lagi masih mengutip pendapat dari buku yang dibacanya.

“Nak Mas sudah hafal makna harfiahnya, sekarang mari kita lihat ke dalam diri kita, ke dalam diriNak Mas, sudahkah Nak Mas melaksanakan makna syukur itu…, sudah kahNak Mas menampakan rasa syukur itu dalam bentuk membelanjakan harta titipan Allah itu dijalan_Nya…,

“CobaNak Mas ingat-ingat lagi zakatnya sudah ikhlas belum, infaq dan sedekahnya sudah dawam belum atau menafkahi orang tuanyasudahbelum……., insya Allah, jika sudah menampakan nikmat itu dengan benar, tidak akan lagi adahal-hal yang ‘aneh’ dalam hal keuangan Nak Mas…….” Kata
kakek
“Selama ini saya selalu berusaha untuk menyisihkan pendapatan saya untuk hal-hal tersebut kek, atau mungkin masih ada yang kurang atau belum saya penuhiya kek, sehingga saya masih merasakan ‘keanehan’ itu…..” Kata Maula.

“SyukurkalauNak Mas sudah berusaha menampakan nikmat dan syukur tersebut dengan membelanjakan harta dijalan Allah, semoga Nak Mas tetap istiqomah dan meningkatkan keikhlasan amalan-amalan tersebut, dan jika Nak Mas masih merasakan ‘keanehan’ itu, coba kita lihat pada syarat berikutnya ‘ridha dan tawakal kepada Allah…..” Kata
kakek.

“Sudahkah Nak Mas ridha dengan pemberian Allah dan kemudian menyerahkan segalanya kepada Allah……..?” Tanya
kakek

Maula terdiam sejenak, ia ragu untuk mengatakan apakah ia sudah ridha dan tawakal kepada Allah, “K
ek, sayamasihseringmemintakepada Allah untukmendapatkanpenghasilanlebih, apakahituberartisaya belumridhadantawakalkepada Allah kek……” kata Maulasedikitcemas.

“Tidak salah kalau kita meminta kepada Allah Nak Mas, bahkan Allah menganjurkan kita untuk memohon kebaikan apapun kepada_Nya, niscaya Allah akan memenuhi permohonan ini, hanya kadang kita-nya yang tidak konsekuen dengan doa dan permohonan kita……..” Kata
kakek.

“Maksudnya k
ek…………?” Tanya Maula

“Begini Nak Mas, setiap hari kita berdoa kepada Allah ‘Bismillahitawakaltu ‘alallah…., dengan nama Allah hamba berserah diri kepada_Nya, tapi yang terjadi kemudian kita justru bertawakal pada penghasilan kita, bukan pada Allah lagi….”

“Kita cenderung akan merasa ‘nyaman’ ketika penghasilan kita besar, bukankarenakitamerasa memiliki Allah yang Maha Pemberi Rezeki, kita lebih cenderung ‘berserah diri’ kepada atasan kita, karena kita menganggap merekalah yang menentukannasib kita, kita beranggapan mereka yang menentukan berapa kenaikan gaji kita, kita masih beranggapan merekalah yang memberikan posisi pada kita, padahal ini salah dan bahkan berseberangan dengan doa kita diatas…..”

“Kalau bismillahitawakaltu ‘alallah kitabenar, berapapun penghasilan yang kita terima, bukan masalah, berapapun gaji yang kita dapat, no problem, bismillahitawakaltu ‘alallah kita benar, apapun kedudukan dan jabatan kita dikantor, bukan persoalan, selama kita masih memiliki kedudukan atau kedekatan kepada Allah, selama kita memiliki buhul atau tambatan yang Maha Kokoh, yaitu Allah swt……..” Kata
kakek.

“Astaghfirullah……., benar k
ek, ternyata itu jawaban terhadap ‘keanehan’ yang saya rasakan selama ini, tawakal saya belum benar kepada Allah, saya masih merasa tergantung dan bergantung pada gaji dan penghasilan saya, saya juga masih merasakan sedikit ketergantungan pada orang lain, pada atasan, belum berserah diri kepada Allah secara penuh……….” Kata Maula.

“Benahi segera Nak Mas, perbaiki tawakal kita kepada Allah, tanam kan dalam –dalam dihati kita bahwa Allah sajalah tempat kita bergantung, Allahushomad, insya Allah, jika Nak Mas sudah mampu bertawakal secara utuh kepada Allah, maka Nak Mas akan mendapati janji Allah dalam surat ath-thaalaq yang kemarin kita bahas, Nak Mas masihingat…….?” Kata
kakek
“Ya kek, barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya…….” Kata Maula sambil mengutip ayat al qur’an;

2. .......... barangsiapabertakwakepada Allah niscayadiaakanmengadakanbaginyajalankeluar.
3. Dan memberinyarezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

“Dan Nak Mas tahu bahwa Allah tidak pernah menyalahi janji_Nya, maka cukupkan diri Nak Mas dengan pertolongan dari Allah, cukupkan diri Nak Mas atas rezeki dari Allah, cukupkan diri Nak Mas atas pemberian Allah saja...., insya Allah ‘keanehan-keanehan’ itu tidakakan Nak Mas rasakan lagi......” Kata K
akek

“Ya k
ek, terimakasih kek, pujisyukurkepada_Muya Allah, Engkau berikan jawaban_Mu lewat lisan guru yang bijak ini......” Kata Maula sambil menengadahkan tangan, terjawab sudah apa yang menghantuinya selama ini.


Amien ya robbal alamiin  


Hanya coretan BLOGER NEWBIE Arya Narindra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar