Kamis, 19 Juni 2014

KUATKAN AKU



Kita cenderung lebih sulit memaafkan diri sendiri dan lebih mudah memaafkan orang lain. Apakah demikian? Begitulah yang seringa aku alami selama ini. Jujur aku merasa baik-baik saja.
Dalam keseharian tatkala berhubungan dengan sesama yang terjadi seringkali kita saling menyalahkan. Saling tunjuk dan melempar kesalahan. Pokoknya kamu yang salah. Bukan saya. Titik! Aku banget ini. Pengalaman memalukan.
Mengapa?
Karena kita merasa tidak ada salah dan orang lain banyak salahnya. Kita malas mencari kesalahan itu pada diri sendiri. Kalaupun merasa ada akan pura-pura tidak tahu. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan. Jelas sekali ini yang sering menjadi perilakuku. Ingat banget.
Tetapi ketika melihat kesalahan orang lain, kita begitu antusias dan rajin. Bahkan kesalahan sekecil apapun jelas terlihat untuk dipermasalahkan. Kalau tidak kelihatan akan dengan semangat dikorek-korek sampai ketemu salahnya. Begitulah namanya usaha.
Ketika orang yang kita anggap bersalah meminta maaf tentu bisa begitu mudak memaafkan. Bisa jadi diam-diam timbul ketinggian hati menertawakan walau wajah tersenyum dan seakan tulus memaafkan.
Namun diri sendiri dalam tumpukkan kesalahan tak pernah dimaafkan oleh keangkuhan hati, sehingga kesalahan semakin menenggelamkan diri. Sadar atau tidak inilah yang membungkam suara hati kita untuk mengingatkan diri. Lagi-lagi ini tabiat yang sulit kulepaskan.
Benarlah bisikan suara yang tersembunyi di kala aku sendiri: Belajarlah mencari kesalahan diri dan mulai belajar untuk berani memaafkan kesalahan sendiri. Dengan demikian akan lebih mudah lagi untuk memaafkan kesalahan orang lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar