BINGUNG DALAM KEBINGUNGAN
Beberapa hari ini aku memang merasa bingung pada suatu hal. Aku bingung pada apa yang sedang menimpaku dan teman-temanku. Aku juga bingung apa yang harus kulakukan untuk menghadapi masalah itu. Awalnya aku takut, namun semakin lama aku justru jengkel merasakannya, dan pada akhirnya aku hanya bisa tertawa tertahan ketika semua yang kupikirkan menjadi kenyataan. Aku jadi semakin yakin bahwa semua perkataan dan apa yang kita pikirkan itu adalah doa untuk diri kita sendiri dan juga orang lain. Dan kenyataannya sekarang adalah aku bingung, bingung apa yang sedang kubingungkan. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya, dan itulah yang kualami. Tak semua orang bisa mengerti seperti apa kebingunganku, atau mungkin justru hanya akulah yang mengerti apa yang sedang kubingungkan.
Bingung. Kata ini yang mayoritas berjingkrak dengan bebasnya di hati dan kepalaku. Bingung pada pilihan-pilihan dan rencana yang telah aku susun sebelumnya. Apakah untuk sebuah karya aku harus membayar sebegitu besar. Apakah ia tak bisa lahir dari proses kreatif yang sangat murah. Seberapa besar maknamu dalam duniaku?aku kembali mempertanyakan itu.
Haruskah saat ini? Tak bisakah besok atau besoknya lagi. Atau besok-besok yang tak perlu terencana. Aku menjalani semua ini seperti membaca sebuah novel dan menempatkan diriku di dalamnya. Aku yang harus menjadi pemeran utama dan aku pula yang harus melakoni endingnya secara nyata. Pengarang yang payah.
Hilang tersedot bumi. Seperti itulah rasanya jiwaku sekarang. Aku kehilangan hal-hal menyenangkan yang dulunya sangat mudah aku dapati di benakku. Perlukah begitu banyak imaji-imaji dengan puluhan tokoh yang nyata sehingga aku bisa menceritakan lagi sebuah kisah. Tak ada permaafan pada diri sebenarnya. Aku harus benar-benar menimbang titik aku berdiri dan melihat tautan-tautan yang ada disekelilingku.
Tak perlu menggunting begitu banyak temali yang tak lurus. Ada kalanya ia tidaklah terlalu kusut. Mungkin saja ia adalah tali sihir yang mampu lurus kembali. Hanya aku saja yang memberikan perlakukan yang berlebihan. Hanya aku yang mungkin memaknainya begitu dramatis. Padahal sebenarnya ia tetaplah dia meski dilihat dari sudut manapun. Tak berubah dan tak pernah berubah.
Aku mungkin yang harus memutuskan sendiri. Tapi aku butuh diskusi banyak denganmu. Perlahan aku harus melepas banyak ikatan yang membelitku. Bergantung hanya padamu.Hanya padamu. Karena kau nyata dan tergapai. Aku selalu percaya bahwa mimpi-mimpi itu tergapai bersamamu. Hanya saja aku butuh tak hanya peduli pada diri sendiri. Tapi juga peduli pada dirimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar